Dedek's Life · SM3T · Yelling Out

Blessing in Disguise

[365 Hari di Biskang, Pelosok Aceh Singkil]

Maret 2016, saya resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan di pundak saya. Pada saat itu saya sudah ada rencana untuk melanjutkan studi ke jenjang magister di awal tahun 2017; memanfaatkan waktu setengah tahun untuk beristirahat dulu. Namun, ibarat istilah (wo)man proposes, God disposes, rencana tinggal rencana, di bulan Agustus tahun itu juga saya terbang ke salah satu daerah pelosok di ujung sumatera, sebagai seorang guru SM3T (Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) dengan tujuan untuk mengabdikan diri selama setahun; mengajar generasi muda Indonesia yang berada disana. Pengalaman selama setahun yang mendewasakan fikiran, mengasah kemampuan sosial, serta yang paling penting adalah mengajarkan cara untuk bagaimana befriend with your situation, even in the worst one.

Tidak pernah terbayangkan di benak saya akan menjejakkan kaki di Tanah Rencong. Bahkan, jika saya runut kembali, ini semua berawal dari ajakan salah satu teman yang mengajak saya untuk ikut program ini. Saya masih ingat saat mengisi formulir pendaftaran online-nya dengan tidak sepenuh hati. Alasannya ya, kelar SM3T masih ada PPG satu tahun lagi dengan rentang waktu setengah tahun sebelum itu dimulai, rencana S2 saya jadinya gimana. But, setelah pemantapan hati disana-sini, I chose this and whatever happened might be the best for me.

The Beginning …

Saya ditempatkan di Desa Biskang, Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil (google it!). Perjalanan udara dimulai dari Padang ke Medan, lalu via darat dari Medan ke Aceh Singkil selama hampir 10 jam, lalu 2 jam lebih ke desa penempatan. Perjalanan ke desa penempatan sangat menyesakkan. Memang sesak secara literal, dalam satu mobil kijang biasa, diisi dengan 8 penumpang; 4 orang di bangku depan, 4 orang di bangku tengah, sedangkan bangku belakang penuh diisi dengan barang – barang bawaan saya dan teman – teman. Saya dan dua teman perempuan lainnya berbagi satu bangku di bangku tengah, karena satu bangku lagi diduduki oleh teman laki-laki yang ukuran badannya lumayan besar. Perjalanan terasa sangat lama, apalagi di sepanjang sisi jalan dipenuhi oleh kebun-kebun kelapa sawit dan jarang sekali ada perumahan warga.

IMG20161104175657
Bukit SM3T, katanya dah

Kami –saya dan teman sesama desa penempatan- sampai di tujuan pada malam hari. Tidak ada penyambutan apapun, desa sudah mulai sepi karena malam sudah mulai larut. Saya dan dua teman perempuan (Kak Dini dan Kak Shinta) lainnya menginap di rumah Kepala Sekolah SD N Sintuban Makmur, sekolah penempatan-nya Kak Dini. Kepala Sekolah saya sendiri berpesan agar besok saya pergi ke rumahnya untuk dicarikan tempat tinggal. Singkat cerita, saya dipertemukan dengan dua teman lainnya (Kak Lara dan Okta) yang ditempatkan mengajar di SMP N 1 Biskang. Kami bertiga tinggal di satu rumah kontrakan di Desa Biskang, sedangkan Kak Dini dan Kak Shinta tinggal di desa sebelah, Desa Napagaluh, karena lebih dekat dengan SD tempat mereka mengajar. Kak Shinta sendiri mengajar di SD N Napagaluh. Para teman laki – laki (Bang Rasyid, Bang Ari dan Bang Rudi) tinggal di rumah dinas SMA, Desa Biskang.

IMG20170810141808.jpg
ki – ka (Saya, Kak Dini, Kak Shinta, Kak Lara, Okta)

 

Pagi pertama di Desa Biskang, kami mulai dengan berjalan mengelilingi kampung guna berkenalan dengan penduduk setempat. Satu hal yang paling membuat kami terkejut adalah desa penempatan kami adalah desa di Aceh namun dengan cita rasa Batak. Hal ini cukup dimaklumi karena daerah ini berbatasan dengan Tapanuli Tengah yang berada di Sumatera Utara sana. Kenyataan yang membuat kami semua merasa sedikiiiiit sekali ilmu tentang daerah penempatan. Maklum, hanya segelintir hal yang kami, terutama saya sendiri ketahui tentang Aceh, diantaranya tentu saja Mesjid Baiturrahman, GAM, Syari’at Islam, Ganja, dan Tsunami. Yang saya bayangkan adalah tempat dengan nuansa islam yang kentara namun disini, its different. Masyarakat hidup di tengah keragaman, mayoritas suku batak pakpak (salah satu jenis suku batak) berbaur dengan suku jawa, suku aceh, dan suku minoritas lainnya. Agama disini pun beragam, Islam, Kristen, Khatolik dan satu lagi kepercayaan Pambi. Mayoritas penduduk adalah pemeluk Kristen dan Khatolik. Masjid dan Gereja bisa ditemukan dalam jarak yang relatif dekat, hal yang baru untuk saya karena di tempat saya berasal –Pariaman- hanya ada satu atau dua gereja, itupun saya tidak pernah lihat sebelumnya.

Ada satu hal yang membuat saya tergelak, Kak Dini, alih-alih membawa celana santai, malah membawa lusinan rok. Alasannya, takut akan salah satu aturan di Aceh yang mewajibkan perempuan memakai rok. Tidak satu pun celana santainya yang dibawa kesini. Setelah bertanya kepada warga, barulah saya tahu kalau aturan memakai rok biasanya hanya dipakai ketika memasuki area-area yang dianggap suci, contohnya saja Mesjid Baiturrahman. Di Banda Aceh pun saya masih melihat perempuan memakai jeans (kalo istilah minangnya blujin songkok – pake jilbab tapi bawahannya jeans yang lumayan ketat). Selang beberapa hari, akhirnya dia minta dikirimi celana dari Padang hahahaha

to be continued …

In case, ada yang bertanya “Kenapa judulnya harus blessing in disguise?karena saya sebelumnya tidak pernah membayangkan akan merasakan pengalaman hebat yang saya peroleh dari program SM3T ini. Padahal daftarnya males-malesan, namun hasilnya menakjubkan. A life changing experience lah kalo saya bilang.

Trivia     :

  1. Tahun 2015, kerusuhan antar agama pernah terjadi di Aceh Singkil, dikarenakan adanya pembangunan rumah ibadah secara illegal. Peserta SM3T tahun yang lalu di desa penempatan yang sama, ikutan ngungsi ke desa sebelah.
  2. Ngga ada yang namanya ganja ada di mana-mana pas di Aceh. Setahun saya di Aceh Singkil, yang saya temui justru ladang kelapa sawit yang terhampar luas 🙂
Advertisements